Hari Minggu, 1 April 2007, saya bersama tim Syiar TV mengunjungi MQTV, TV Islam yang mengudara di Bandung pada tahun 2006.
Kunjungan ini adalah dalam rangka silaturrahim sehingga bisa menjalin kerjasama lebih jauh. Apalagi banyak TV Lokal, termasuk TV Islam, yang bangkrut karena biaya lebih tinggi daripada pemasukan.
Pak Eka menjelaskan program-program MQTV seperti Siaran Berita, Lawakan Orang Sunda dalam bahasa Sunda, pelajaran membaca Al Qur’an, dsb.
Berbeda dengan sebagian besar TV-TV Nasional yang kerap mempertontonkan sinetron dengan artis berpakaian seksi dan cerita yang sensasional, maka MQTV menampilkan pemain dengan pakaian santun dan acara yang lebih edukatif.
Iklan rokok, minuman keras, dan yang menampilkan aurat tidak diterima oleh pihak MQTV.
Tarif iklan sangat murah di MQTV. Hanya Rp 50 ribu per spot (30 detik). Ini jauh lebih murah ketimbang iklan di TV Nasional yang mencapai lebih dari Rp 10 juta per spot atau pun iklan Radio yang bisa mencapai 9 juta lebih per paket. Ada paket iklan seharga Rp 5 juta di mana iklannya dibuat oleh MQTV berikut iklan 60 spot.
Sebagai ketua MIFTA (Muslim IT Association), saya menawarkan kerjasama ke MQTV dan Syiar TV untuk membuat acara IT sebagaimana halnya MetroTV dengan e-Life Style-nya.
Semoga kita semua bisa mendukung keberadaan MQTV misalnya dengan memasang iklan di sana.
Gambar samping adalah Studio MQTV di basement yang kedap suara.
Samping kiri adalah contoh program MQTV seperti terlihat di TV. Gambar masih kurang bagus mungkin karena jarak studio dengan pemancar utama 5 kilometer serta terhalang pegunungan.
Jika pemancar utama dipasang di Studio MQTV mungkin gambar bisa lebih baik lagi, karena pemancar utama yang ada sekarang sebesar 1000 Watt dan Menara 80 meter seharusnya sudah cukup untuk memberi gambar yang bagus.


Alhamdullillah pak Agus. Mudah-mudahan MQTV tetap terus exist untuk menyemarakkan dakwah di tanah air. Amien
Kenapa MQTV tidak mencoba ke pentas perteleivsian nasional
alangkah lebih baiknya jika langsung meroket saja
iklan itumesti selektif lho
semoga MQTV cepat bangkit
saya sangat setuju sekali dengan pak estro kalau MQTV mencoba tuk ke ajang pertelevisian indonesia. tetapi saya ada masukan neh. denger-denger neh….RUU tentang penyiaran menyatakkan bahwa :
” Penyiaran TV nasional itu di pegang penuh haknya
oleh TVRI “.
Jadi alangkah besar peluang bagi TV Lokal untuk mengembangkan TV nya.
Assalamu’alaikum, wr.wb.
Sepertinya perlu ada forum yang spesialis membahas bagaimana TV Islam bisa memiliki kemampuan untuk meraih iklan. Karena tidak dapat dipungkiri, iklan di TV merupakan oksigen dalam pernafasan keberlangsungan siaran. Adakah yang mau mengumpulkan praktisi periklanan dan marketing ikut serta dalam memilkirkan cara agar TV Islam juga memiliki visi bisnis yang mumpuni, tentunya dengan tetap mempertahankan nilai-nilai keislaman dalam promosi yang dimuat. Wallahu’alam
B. Ridwan
di milis TV Islam sepertinya ada 1-2 orang dari Advertising. Harusnya bisa berperan untuk itu.
Harusnya formula sistem marketing juga ditetapkan agar para marketer tertarik untuk turut memasarkan. Misalnya bagi marketer yang sekedar memberi alamat CP potential customer bisa dapat 10% dari nilai kontrak. Tapi kalau turut langsung membantu hingga kontrak tercapai, dapat 20% dari nilai konttrak.
Bagaimana? Apa dari TV2 Islam yang ada setuju?
Saya juga berharap MQTV bisa eksis di pertelevisian nasional atau TV lokal tp satu manajemen.
untuk formula marketing kalo itu memang baik kenapa tidak.
maju terus TV Islam.
Para stasiun TV Islam seharusnya membentuk holding sebagai wadah bagi investor umum untuk investasi. Juga sebagai wadah bagi tv-tv Islami meraup modal. Holding ini harus profesional sehingga kemungkinan investor luar sprt arab bisa masuk.
indonesia-arab.blogspot.com