RADAR JOGJA
Sabtu, 15 Sept 2007
Takmir Masjid Jogokariyan Dirikan Televisi Komunitas
Siaran Lima Jam Per Hari, Reportase ke Masjid-Masjid
Prihatin menyaksikan tayangan televisi yang tidak mendidik dan cenderung merusak moral, Takmir Masjid Jogokariyan mendirikan stasiun televisi komunitas. Namanya Masjid Jogokariyan (MJ) TV. Televisi yang ditangani anak-anak muda ini diharapkan dapat membentengi masyarakat, terutama anak-anak, dari kemerosotan moral.
AZAM SAUKI ADHAM, Jogja
JAM sebentar lagi menunjukkan pukul 17.00. Sejumlah aktivis Masjid Jogokariyan yang menangani siaran mulai kumpul di masjid. Ini karena studio MJ TV mengambil salah satu ruangan di kompleks masjid.
Studio berukuran sekitar sembilan meter persegi ini terletak di selatan tempat salat. Lokasinya bersebelahan dengan dapur. Di studio yang masih sederhana ini terdapat perangkat siaran. Ada televisi untuk monitor siaran, sound system dan peralatan pemancar.
Sedangkan kabel pemancar dihubungkan ke antena. Antena sederhana ini diletakkan di bangunan menara setinggi 20 meter dari tanah. Televisi yang tayang perdana pada acara pembukaan Kampoeng Ramadhan Jogokariyan tanggal 13 September lalu ini siap mengudara setelah pukul 17.00.
“Untuk sementara siarannya baru lima jam per hari,” terang Ketua II Takmir Masjid Jogokariyan M Fanni Rahman SIP kepada Radar Jogja kemarin. Biaya untuk mendirikan televisi komunitas ini ditanggung takmir. Dana yang telah dikeluarkan takmir sebesar Rp 20 juta. Uang ini untuk memberi peralatan elektronik.
Ada juga alat-alat yang pengadaannya bukan berasal dari uang masjid, melainkan berstatus pinjaman dari jamaah. Nah, dalam mengoperasikan MJ TV, takmir masjid menggandeng Akademi Komunikasi Indonesia (Akindo).
Beberapa mahasiswa jurusan komunikasi ini dilibatkan dalam produksi siaran. Mulai pengambilan gambar, pemberitaan, editing hingga pekerjaan-pekerjaan bersifat teknis.
Apa saja materi acaranya? Televisi yang sementara masih mengudara dengan radius 2 Km ini menyajikan program tayangan unggulan. Antara lain salat Maghrib live, pengajian live dan takjilan.
Pada tayangan ini, kru MJ TV hanya bekerja di studio. Tidak perlu menerjunkan kameramen. Pasalnya, di setiap sudut masjid, terutama di mimbar ceramah dan tempat salat imam dipasang kamera berukuran kecil. Peristiwa yang terekam dalam kamera ini langsung dipancarkan ke rumah penduduk melalui master control.
Selain itu, MJ TV menayangkan film-film dokumenter Islam, dunia anak dan sajian seni Islami. Yang menarik, awak MJ TV juga melakukan reportase di masjid-masjid di wilayah Jogja dan sekitarnya. Hanya reportase ini tidak langsung ditayangkan melainkan siaran tunda.
“Kami berharap stasiun TV ini dapat menjadi sarana memperluas syiar Islam di masyarakat,” tutur Fanni. Nantinya, MJ TV dikembangkan menjadi televisi lokal di Jogja. Hanya kapan obsesi ini diwujudkan, pengurus takmir tidak mematok target.
Lantas, bagaimana respon masyarakat? Berdasarkan survei, tanggapan masyarakat sangat positif. Mereka berharap kemunculan MJ TV dapat membentengi acara-acara televisi swasta yang mempertontonkan tayangan tidak mendidik bagi masyarakat, terutama anak-anak.
Pada Ramadan 1428 H ini, Masjid Jogokariyan juga menggelar Kampoeng Ramadan. Acara ini dikemas secara integral mulai kegiatan keagamaan, sosial, ekonomi, pendidikan, entrepreneur dan kegiatan penunjang lain. ***
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=172523&c=85
Alamat MJTV Masjid Jogokariyan:
http://www.masjidjogokariyan.org/?page_id=2
Kompleks Masjid Jogokariyan.
Jl. Jogokariyan 36 yogyakarta 55143
phone contact: 0274-419271
mail: admin@masjidjogokariyan.org
Mail Contact
Takmir Masjid: takmir@masjidjogokariyan.org
Masjid Jogokariyan TV:
mjtv@masjidjogokariyan.org
http://asiamedianotes.wordpress.com/tag/regional-media-news/
INDONESIA: Yogya mosque uses TV to reach the masses
Yogyakarta — A Yogyakarta mosque has turned to television preaching to reach more people. MJTV or Masjid Jogokariyan Television was launched by the takmir (management) of Jogokariyan Mosque in Jogokariyan village on the first day of Ramadhan, or Sept. 13.
“We operate on VHF 4 channel and have a broadcasting radius of some 2.5 kilometers,” Sudi Wahyono, who belongs to the mosque’s takmir, told The Jakarta Post on Thursday. With that coverage, according to Sudi, MJTV can reach all residents of Jogokariyan, which comprises 887 families, just under 4000 people, of whom 95 percent are Muslim.
“For the moment we are on air daily from 3 to 11 p.m.,” said Sudi, who is also head of household affairs at the mosque. At present the TV station’s programming consists mostly of live coverage of the Ramadhan activities at the mosque.
Apart from live programs, MJTV broadcasts information regarding upcoming activities for the benefit of the jamaah (community). This is in line with one of MJTV’s main objectives — reaching out with mosque programs to those who can’t be there physically, said Sudi.
The TV allows Muslims to follow preaching activities from the comfort of their homes. After Ramadhan, the mosque plans to expand its programming.
Built in 1996, the mosque’s Kampung Ramadhan (Ramadhan Village) program was launched during the fasting month three years ago in an effort to bring more people to the mosque and promote the neighborhood’s economic potential.
At Kampung Ramadhan, food items are on sale in the afternoon for breaking the fast. There are also performances, films, festivals, competitions and religion workshops. Other fasting month activities include i’tikaf (seclusion and meditation at the mosque for the last 10 days of Ramadhan) and tarawih, non-obligatory, Medina-style evening prayers on Saturday.
“So far we have invested some Rp 20 million in the station,” said Sudi, mentioning CCTV cameras and other broadcasting equipment, transmitters, converters, VCD players, switchers and TV sets. To cut costs, the takmir’s own four-by-six meter, air-conditioned office has been used as a studio. All TV crews work on a voluntarily basis.
“We all work for God here. So, let Allah pay for our salary,” Sudi said. Jogokariyan Mosque has become a management model for other mosques and even a minor center for comparative studies.
Other mosques’ takmir and representatives of religious offices from as far away as Pangkal Pinang and Kampar in Riau province have visited the three-story building.
“Most of them wanted to know more about our Kampung Ramadhan.
Sumber: Jakarta Post
Assalamu’alaykum…
wah keren… kmaren sempet mau liyat launchingnya tapi karna ada halangan jadi gag bisa…
oh iya ini frekuensinya/chanel berapa ya?
jangkauan siarannya sampe mana aja…
Keren abisss!!!
Saya melihat tv Jogokaryan masih terlalu sederhana programnya jadi kelihatan murahan,Apakah Islam kelihatan murahan? Di bikin lebih ekslusif dan mahal dong.Saya warga langenastran.SDM Bagus bisa kalahkan TV Nasioanal yang memonopoli udara Yogya dan Jogokaryan
Iya mas Lilliek. Memang kita memiliki keterbatasan dana. Para aghniya harusnya turut membantu pengembangan dakwah Islam sehingga mutunya lebih baik lagi.
Alasan Membangun TV Islami…
“PERANAN MEDIA” dan Fasilitas Pendidikan
http://myquran.org/forum/index.php/topic,20011.msg437822.html#msg437822
Kita butuh propaganda
http://myquran.org/forum/index.php/topic,20011.msg459013.html#msg459013
Mendirikan Televisi Umat Islam
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28819.0.html
maaf, kalau bisa mosque diganti masjid saja, karena mosque adalah nama ejekan bagi orang islam, yang artinya,-maaf- sarang nyamuk
tolong saya dapat dikirimi artikel tentang pengelolaan masjid sehingga bisa menarik jamaah aktiv