Pembangunan Stasiun TV Islam sebagai alat dakwah/syiar Islam guna membina ummat Islam dengan tontonan yang mendidik amat diperlukan. TV ini bisa mendidik ummat Islam sehingga paham dengan ajaran Islam untuk kemudian diamalkan.
Sayang sekali TV Islam semacam itu nyaris tak ada. Yang ada justru TV yang banyak berisi Sinetron yang memamerkan dada, paha, dan adegan seks. Begitu pula iklan-iklan TV yang jorok yang bisa ditonton anak-anak di rumah-rumah.
Banyak stasiun-stasiun TV Swasta yang bangkrut meski modalnya puluhan bahkan ratusan milyar rupiah. Contohnya Lativi yang dibeli pihak lain hingga berubah nama jadi TVOne, Global TV dari kelompok Muslim yang akhirnya jadi gerbangnya MTV, dan sebagainya.
Sebaliknya, TV-TV Komunitas yang modalnya cuma puluhan juta rupiah seperti Grabag TV, PalTV, dan sebagainya tetap bertahan meski sudah 7 tahun lebih berdiri:
http://grabagtv.blogspot.com/2009/07/profil-grabag-tv.html
Ini karena mereka mendirikan stasiun TV dengan semangat “jihad”, amatir/kecintaan atau hobbiest. Jadi dengan modal seadanya, mereka bisa bertahan.
Bahkan TATV yang awalnya cuma TV Komunitas yang didirikan oleh Gereja, berkembang jadi TV Lokal yang menjangkau propinsi Jawa Tengah.
DAAI TV yang didirikan Yayasan Tzu Chi (Budha) dari TV Lokal di Medan, kemudian Depok, sekarang bisa jadi TV Nasional yang menyiarkan tontonan yang baik dan bermoral serta bisa dinikmati pemirsa lintas agama:
http://id.wikipedia.org/wiki/Da_Ai_TV
Sebaliknya MQTV seperti ulasan blogger di bawah justru bangkrut dengan 60 karyawan penuh yang harus digaji. Sewaktu saya kesana, saya dapat info pendapatan mereka dari iklan sekitar Rp 80 juta/bulan. Satu jumlah yang cukup besar. Namun karena jumlah karyawannya beserta manager dan direktur ada 60 orang, jumlah segitu tidak bisa menutupi dana operasionalnya. Oleh karena itu tahun 2008 bangkrut.
Namun jika MQTV beroperasi dengan pendekatan TV Komunitas yang sarat dengan semangat dakwah dan jihad di mana tenaganya mayoritas melakukan karena semangat dakwah/jihad/hobi, niscaya MQTV juga bisa bertahan dan berkembang sebagaimana Grabag TV, PalTV, dan TATV.
Rp 80 juta/bulan sudah cukup untuk menggaji 5 orang karyawan tetap yang jadi motor MQTV sebesar @ Rp 5 juta/bulan. Nanti mereka inilah yang menggarap komunitas seperti Majelis Ta’lim, Remaja Mesjid, dsb untuk mengisi acaranya. Dengan biaya operasional Rp 25 juta/bulan, maka total pengeluaran hanya Rp 50 juta/bulan. Maka pendapatan Rp 70 juta/bulan pun sudah memberi keuntungan Rp 20 juta/bulan.
Jika operator TV Islam memakai pendekatan Dakwah/Jihad, insya Allah TV Islam akan bertahan lama sebagaimana GrabagTV/PalTV/TATV. Sebaliknya jika memakai pendekatan profesional/bisnis di mana tiap pekerja berharap mendapat makan dari situ, maka TV tersebut tidak akan bertahan lama.
Ada pun Production House (PH) MQTV biar berjalan sendiri. PH ini dengan keuntungannya bisa membantu MQTV.
Sebetulnya jika ummat Islam (Tokoh Islam, Ulama, Aghniya) bersatu dan bisa membuat TV dengan strategi operasional yang baik, niscaya ummat Islam akan bisa membuat stasiun TV yang bertahan lama sebagaimana TATV dan DAAI TV. Yang penting cerdas dan niat yang lurus lillahi ta’ala. Bukan asal-asalan dan oportunis untuk mendapat kekayaan pribadi.
Di Balik Kolaps-nya MQ TV
Baru-baru ini harian Surya memuat headline sangat sangat, TV Aa Gym Bangkrut. Itu ditulis besar-besar dan sangat menyolok. Menurut berita Surya ini, MQTV bangkrut sehingga harus mem-PHK 60 dari 63 karyawannya. Untuk membayar pesangon bagi 60 karyawan itu, manajemen MQTV mencari pinjaman senilai 1 miliar rupiah. (Surya, 21 Oktober 2008).
Saya tertarik mengomentari kasus ini, sebab dulu pernah menjadi orang MQ, kerja di bawah manajemen MQ, sejak awal 2002 sampai pertengahan 2003. Sekitar Juni 2003 saya keluar dari MQ dan memilih usaha mandiri, sampai saat ini. Sebagai mantan orang MQ saya pernah melihat pertumbuhan MQTV, dan disini ada hikmah berhargayang ingin disampaikan.
Setelah keluar dari MQ saya tidak lagi berkunjung atau mampir-mampir kesana. Tetapi kalau kebetulan bertemu teman-teman sekantor dulu, kita tetap saling tegur sapa, ramah-tamah, kadang ngobrol. Pendek kata, masalah keluar dari MQ adalah masalah pribadi saya, sedangkan pertemanan dengan teman-teman tetap dipelihara (meskipun tidak intensif lagi). Padahal berulang-kali teman-teman meminta saya mampir kesana, kalau ada waktu. Terus terang saya segan, sebab khawatir nanti dikira “ingin meminta jatah kerjaan atau proyek”. Nah, kesan seperti itu sangat saya khawatirkan.
Suatu saat, ketika sedang berjalan di kawasan Geger Kalong, saya bertemu teman lama, Mas Hadi namanya. Beliau ini teman baik selama saya di MQ. Beliau sedikit memaksa saya masuk ke warung nasi, dan kami berbincang-bincang disana. Seperti biasa, beliau tanya bagaimana keadaan saya, begitu pula saya juga menanyakan keadaan dia. Lebih penting lagi, “Bagaimana perkembangan MQ sekarang?” tanya saya. Ternyata setelah sekian lama saya keluar, MQ mengalami perkembangan-perkembangan. Mas Hadi sendiri pindah dari Divisi MQ Publikasi menjadi Sekretaris MQ Corporation (perusahaan induk MQ).
Selain, dia juga bercerita bahwa sekarang MQTV bukan lagi production house (PH), tetapi sudah menjadi sebuah stasiun TV mandiri. Mendengar informasi itu saya takjub, sekaligus merasa penuh keheranan. “Lho, sekarang jadi stasiun TV, bukan PH lagi?” Mas Hadi mengiyakan.
Seketika saya merasa prihatin. Menurut saya, ketika MQTV berubah menjadi stasiun TV, bukan lagi PH, hal itu merupakan langkah tergesa-gesa. Ketika MQTV baru sebatas PH yang memproduksi acara-acara ceramah, filler (potongan acara pendek-pendek), atau hiburan humor keluarga Muslim, hal itu sudah bagus, sudah optimal sesuai kapasitasnya. Tetapi kalau mau maju ke level stasiun TV, ia merupakan lompatan yang terlalu-terlalu jauh. Bisnis PH paling putaran dananya miliaran (misal di bawah 15 miliar untuk setiap 1 paket acara). Tetapi stasiun TV itu triliunan atau ratusan miliar dana dibutuhkan.
Seperti anak kecil yang tadinya punya uang 10 ribu. Dengan uang itu dia bisa membeli permen, kerupuk, snack, kacang, kue, dan sebagainya. Tetapi ketika dia masuk sebuah hypermarket seperti Makro misalnya, maka uang 10 ribu itu menjadi tidak ada artinya. Apa yang bisa didapat dari uang 10 ribu? Untuk level jajanan warung, uang senilai itu sudah bagus, tetapi untuk hypermarket jelas tidak cukup.
Dalam level PH, MQTV sudah bagus, tetapi untuk masuk stasiun TV amat sangat besar dana yang dibutuhkan. Konon untuk membangun TransTV, Chaerul Tanjung harus merogoh duit senilai 900 miliar. Kemarin, untuk membeli Lativi kemudian diubah menjadi TVOne, Erick Tohir dan kawan-kawan butuh dana 1,3 triliun. Level dananya besar, triliunan.
Banyak TV-TV dengan modal cekak akhirnya kolaps, atau guncang. Misal, dulu ANTV nyaris kolaps gara-gara tidak kuat membiayai operasional TV-nya. Padahal ANTV tadinya lebih banyak jualan MTV. TPI juga begitu. Tadinya dia bermain di TV edukasi, tetapi akhirnya berubah total jadi TV hiburan, dangdut mania, sinetron, lawak, dll. TV7 terpaksa harus mau sahamnya dibeli oleh TransTV, sehingga sekarang menjadi Trans7. Begitu pula TV milik Abdul Latif (pemilik Pasaraya Grande), Lativi, juga akhirnya dijual ke Erick Tohir dan kawan-kawan, sekalian dengan hutang-hutangnya.
Secara riil, bisnis stasiun TV itu sangat-sangat mahal. Untuk satu unit kamera saja, harganya bisa ratusan juta, bisa miliaran. Untuk fasilitas studio, editing, mixing, hardware, administrasi, dst. sangat memakan biaya. Bahkan operasional sehari-hari saja butuh dana besar. Ishadi SK, datuknya urusan TV di Indonesia, dalam sebuah seminar di Bandung, dia pernah mengakui bahwa manajemen TV cenderung bersikap pragmatis (cari untung). Alasannya, kata dia, “Sebab bisnis TV itu padat modal.”
Ummat Islam sejak dulu ingin membangun TV Islam, tetapi karena padat modal, niat itu tidak pernah berjalan mulus. Republika pernah menggagas GlobalTV, ternyata TV itu menjadi portal MTV, dan tidak berbeda jauh dengan TV-TV lain. Dulu pernah muncul Ar Rahmaan TV, semacam TV saluran khusus (TV kabel). Akhirnya gulung tikar juga. MQTV juga sama, mula-mula agak bagus, meski daya jelajahnya baru terbatas di kawasan Bandung Raya. Lama-lama kolaps juga. Mungkin ada puluhan atau ratusan konsep dan proposal TV Islami, tetapi akhirnya hanya sekedar konsep, tak pernah maujud. Kalau sudah mengudara, biasanya dapat diprediksikan “kapan ajalnya tiba”.
Waktu itu saya kemukakan sekian kritik ke Mas Hadi, kebetulan dia Corporate Secretary-nya MQ Corporation. “Sudah saja berbentuk PH seperti sekarang, jangan menjadi stasiun TV. Terlalu riskan kalau modalnya pas-pasan,” kurang lebih begitu. Tetapi katanya, keputusan manajemen sudah bulat, harus berdiri MQTV. Alasannya simple, “Mumpung prosedur untuk mengurus ijin TV mudah. Kalau nanti, khawatir prosedurnya tidak mudah lagi.” Ooh begitu alasannya; saya hanya bisa manggut-manggut. Tetapi dalam hati, kalau masuk ke bisnis TV dengan persiapan centang-perenang wah sulit sekali. Nanti bukan untung yang didapat, malah buntung.
Ternyata, setelah berlalu waktu sekian tahun, apa yang dikhawatirkan terjadi juga. Selain MQTV kesulitan dana untuk memproduksi acara, siarannya seringkali keruh, tidak jernih di monitor TV. Dan coverage area-nya tidak luas, hanya menjangkau kawasan Bandung sekitarnya. Dengan kenyataan seperti ini, siapa yang mau pasang iklan? Hampir tidak akan ada yang mau, kecuali bisnis amatiran, atau perusahaan besar yang punya komitmen sosial (mau membantu). Padahal iklan adalah “darah segar” yang dibutuhkan oleh setiap perusahaan media TV. Tanpa iklan, bisnis TV akan bangkrut, lambat atau cepat.
Sebagai perbandingan, SpaceToon, TV kartun untuk anak-anak. Sampai saat ini juga sepi iklan, sepi sekali. Alasannya, gambar di layar TV kurang jernih, jangkauan kurang luas, dan kualitas kartun-kartunnya tipe jadul (jaman dulu). Berbeda dengan MQFM radio, jangkauan lumayan untuk sekelas radio FM, dan acaranya cukup dinamis, jadi masih ada yang mau pasang iklan. Bahkan Anda lihat, bisnis operator telepon seluler, baik GSM maupun CDMA. Mereka berlomba-lomba meluaskan jangkaun signal dan kerjenihan suaranya. Itu membuktikan, bahwa dalam bisnis seperti ini butuh kualitas, tidak hanya idealisme yang meledak-ledak, serta ambisi bisnis yang berlebihan.
Bisnis TV bisa dikatakan kapitalis murni. Ia tidak bisa berharap sumbangan, hasil penjualan, atau tarip dari masyarakat. Semua gratis tis tis… Masyarakat cuma menonton saja, tidak ada kontribusi apapun bagi TV. Yang mendanai TV adalah iklan-iklan produk. Sementara pemasang iklan tidak sembrono menggelontorkan dana iklan. Mereka melihat ratting acara. Kalau suatu acara banyak ditonton masyarakat, mereka mau pasang iklan. Bahkan rela berebut pasang iklan. Tetapi kalau sepi-sepi saja, seperti SpaceToon, BandungTV, MQTV, dll mereka sangat enggan memasang iklan. Jadi, penentu sukses-tidaknya sebuah TV, tergantung 100 % selera masyarakat. Nah, inilah yang disebut mekanisme kapitalisme murni, segala sesuatu tergantung selera pasar.
Bisnis kapitalisme murni seperti ini sangat berbahaya. Mengapa? TV-TV tersebut tidak memiliki orientasi untuk memberdayakan masyarakat atau memperkuat kehidupannya. Tetapi mereka hanya peduli dengan profit yang akan didapat. Soal dampak acara TV, itu nomer 3715 (artinya, tidak dihiraukan sama sekali). Maka itu, Anda lihat TV-TV itu berlomba mencari untung dengan slogan sederhana, “Asal penonton senang, kantong kita tebal.” Berbagai cara dilakukan, agar penonton suka, tidak peduli sesudah itu penonton akan teler, mendem, atauremek. Pokoknya, untung dan untung orientasinya.
Adapun idealisme TV Islami dalam sistem seperti ini sungguh tidak logis. Bagaimana Anda akan bertahan hidup di tengah gurun pasir, padahal Anda adalah orang dari kutub? Begitulah analoginya. Misi TV Islami dengan sitem TV liberal di Indonesia sangat jauh jaraknya. TV Islami untuk pemberdayaan Ummat, sementara TV liberal hanya menjadikan masyarakat sebagai obyek esploitasi profit.
Sampai titik tertentu, kehadiran MQTV seperti seorang bayi yang lahir dengan kulit putih, sementara keluarga di sekitarnya berkulit hitam semua. Ia hadir bukan saja dengan persiapan pas-pasan, tetapi hadir dalam persaingan bisnis TV liberal. Tidak mungkin misi dakwah Islam akan bisa hidup dalam lingkungan seperti itu. Kecuali kalau ada dermawan mukhlis yang mau terus mengeluarkan biaya, tanpa berharap ia akan kembali dalam bentuk profit.
Adakah dermawan seperti itu? Tampaknya kecil peluangnya. Wallahu a’lam bisshawaab.
Bandung, 27 Oktober 2008.
By AMW.
http://abisyakir.wordpress.com/2008/10/27/kenangan-di-balik-kolaps-nya-mq-tv/


ulasan yang menarik
insya Alloh kapan2 saya berkenujung ke sini lagi
barokalloh fiik
Salam,
Sekarang MQTV sudah siaran lagi.
Saya menjadi salah satu narasumbernya.
Silakan mampir…
http://youtu.be/Q-OrQABbxf4
Terima kasih…